- Diposting oleh : Admin
- pada tanggal : April 20, 2021
“Ilmu adalah cahaya.” Demikian kata Imam Syafi’i dalam sebuah syairnya.
Karena ilmu begitu penting, Rasulullah saw memerintahkan, “Tuntutlah ilmu
sejak dari buaian sampai liang lahad.” Namun, ilmu saja tidak cukup. Ilmu
harus dimanfaatkan, dengan mengajarkan dan –yang terpenting- mengamalkannya.
Imam Al-Ghazali, penulis kitab Ihya Ulumuddin, pernah mengirim surat kepada
salah seorang muridnya. Melalui surat itu, Al-Ghazali ingin menyampaikan
tentang pentingnya memadukan antara ilmu dan amal. Berikut petikan dari isi
suratnya;
Anakku …
Nasihat itu mudah. Yang sulit adalah menerimanya. Karena ia keluar dari
mulut yang tidak biasa merasakan pahitnya nasihat. Sesunggunya siapa yang
menerima ilmu tetapi tidak mengamalkannya, maka pertanggungjawabann ya akan
lebih besar. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Orang yang paling berat
azabnya pada hari kiamat kelak adalah orang berilmu (‘alim; ulama) yang
tidak memanfaatkan ilmunya.”
Anakku …
Janganlah engkau termasuk orang yang bangkrut dalam beramal, dan kosong dari
ketaatan yang sungguh-sungguh. Yakinlah, ilmu semata tak akan
bermanfaat-tanpa mengamalkannya. Sebagaimana halnya orang yang memiliki
sepuluh pedang Hindi; saat ia berada di padang pasir tiba-tiba seekor macan
besar nan menakutkan menyerangnya, apakah pedang-pedang tersebut dapat
membelanya dari serangan macan jika ia tidak menggunakannya? ! Begitulah
perumpamaan ilmu dan amal. Ilmu tak ada guna tanpa amal.
Anakku …
Sekalipun engkau belajar selama 100 tahun dan mengumpulkan 1000 kitab, kamu
tidak akan mendapatkan rahmat Allah tanpa beramal.
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya.”
(QS. An-Najm [53]: 39)
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia
mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun
dalam beribadah kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Kahfi [18]: 110)
Anakku …
Selama tidak beramal, engkau pun tidak akan mendapatkan pahala. Ali
Karramallahu wajhahu berkata,
“Siapa yang mengira dirinya akan sampai pada tujuan tanpa
sungguh-sungguh, ia hanyalah berangan-angan. Angan-angan adalah barang
dagangan milik orang-orang bodoh.”
Al-Hasan Al-Basri rahimahullah berkata,
“Meminta surga tanpa berbuat amal termasuk perbuatan dosa.”
Dalam sebuah khabar, Allah SWT berfirman,
“Sungguh tak punya malu orang yang meminta surga tanpa berbuat amal.”
Rasulullah saw bersabda,
“Orang cerdas ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya dan berbuat
untuk setelah kematian. Dan orang bodoh ialah siapa yang memperturut hawa
nafsunya dan selalu berangan-angan akan mendapatkan ampunan Allah.”
Begadang mata untuk kepentingan selain Wajah-Mu adalah sia-sia Dan tangis
mereka untuk sesuatu yang hilang selain-Mu adalah kebatilan, dan hiduplah
sesukamu karna toh kamu akan mati juga.
Cintailah orang sesukamu sebab kamu toh akan berpisah dengannya, dan
berbuatlah sesukamu karena sesungguhnya kamu akan menuai ganjarannya.
Anakku …
Apapun yang kamu peroleh dari mengkaji ilmu kalam, debat, kedokteran,
administrasi, syair, astrologi, arud, nahwu & sharf, jangan sampai kau
sia-siakan umur untuk selain Sang Pemilik Keagungan.
Aku pernah menilik dalam kitab Injil sebuah ungkapan Isa a.s:
“Sejak mayat diletakkan di atas peti jenazah hingga diletakkan di bibir
kubur, Allah melontarkan 40 pertanyaan dengan segala Keagungan-Nya. Demi
Allah, pertanyaan pertama yang dia ajukan adalah:
Hamba-Ku, telah Kusucikan pandangan makhluk bertahun-tahun, tetapi mengapa
tak kau sucikan pandangan-Ku sesaat pun, padahal setiap hari Aku melihat ke
kedalaman hatimu. Mengapa kau berbuat demi selain-Ku, padahal engkau
bergelimang dengan kebaikan-Ku, ataukah engkau telah tuli & tak
mendengar!”
Nak, ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah
kesia-siaan.
__Nasihat Imam Al-Ghazali dalam Ayyuhal-Walad