- Diposting oleh : Mas Azer
- pada tanggal : Januari 14, 2026
Dalam memulai mencari ilmu, niat tidak harus tertata dengan ikhlas sebab
sangat sulit mencapai tingkatan mukhlisin apalagi bagi pemula. Bila pada
awalnys ada terbersit tujuan untuk mencari pangkat derajat, kemulyaan,
sanjungan, dan urusan duniawi lainnya akan menyertai niat tersebut, maka
sementara biarkan saja dan tetap meneruskan usaha mencari ilmu.
Seperti halnya ibadah lainnya, sedekah misalnya, bila kita menunggu sampai
benar-benar ikhlas, maka kita akan selalu menunda-nunda untuk sedekah dengan
alasan belum ikhlas.
Saudaraku, kita bisa mengambil hikmah dari kisah Al Ghozali bersaudara;
Muhammad bin Muhammd al-Ghozali (Imam Al-Ghazali) dan saudaranya, Ahmad bin
Muhammad. Mereka berdua adalah anak dari seorang penenun kain yang hasil
tenunannya tersebut dijual di pasar kota Thus. Kehidupan keduanya dibiayai
oleh ayahnya dari hasil pekerjaan tersebut.
Sebelum meninggal sang ayah berwasiat kepada salah seorang temannya yang
merupakan seorang sufi dan ahli khair.
"Aku sangat ingin sekali pandai tulis-menulis dan aku sangat ingin memenuhi
apa yang tidak bisa kulakukan untuk kedua anakku, maka semua harta yang aku
tinggalkan adalah untuk mendidik mereka berdua, tidak untuk Anda."
Setelah sang ayah meninggal keduanya pun dididik oleh sufi tersebut sampai
harta peninggalan ayah mereka berdua habis untuk membiayai mereka berdua, dan
sufi teman ayah mereka tidak mampu membiayai mereka. Sang sufi kemudian
berkata pada mereka:
"Kalian berdua, ketahuilah bahwa aku telah menggunakan seluruh peninggalan
ayah kalian untuk kalian berdua dan aku adalah seorang faqir ahli tajrid
sehingga tidak bisa membiayai kalian berdua, menurutku jalan terbaik adalah
kalian mengungsi ke madrasah solah-olah kalian adalah pelajar yang ingin
mencari ilmu di sana sehingga kalian bisa mendapatkan makanan."
Lantas Al Ghozali bersaudara melaksanakan nasihat sufi teman ayah mereka
tersebut, mereka pun masuk di Madrasah Nidzamiyah yang saat itu dipimpin
Imam al Haromain. Sampai akhirnya mereka menjadi orang yang alim allamah yang menjadi lentera dunia.
Madrasah Nidzamiyah merupakan Madrasah yang didirikan oleh al Hasan bin Ali bin Ishaq (408-485 H).
Beliau belajar ilmu Adab Arobiah dan mendengarkan banya Hadits, beliau
bekerja di pemerintahan selama 20 tahun sebage seorang perdana menteri
dengan bergelar Qowamuddin Nidzom Mulk. Ibnu Aqil mengatakan "Tahun-tahun kehidupan beliau adai tahun kekuasaan ahli ilmu." Az Zarkali, al Alam. Vol. II. hal. 202.
Mengisahkan latar belakangnya tersebut al Ghozali berkata:
طلبنا العلم لغير الله فأبى أن يكون إلا لله
"Aku mencari ilmu bukan karena Allah, namun akhirnya ilmu hanya hanya
berkenan karena Allah."
(Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghozzali dalam Kitab Ihya' Ulumiddin,
Maktabah Darul Kutub al Islami, Beirut. hal. 4)
Artinya, keikhlasan akan muncul dengan sendirinya terbawa oleh terangnya
cahaya ilmu yang beliau peroleh. Niat atau tujuan yang pada awalnya untuk hal
duniawi bisa dijadikan sebagai bahan bakar semangat untuk mengumpulkan ilmu
sebanyak-banyaknya dan mencapai target atau tingkatan tertentu yang
dicita-citakan.
Kisah antara KH Bisri Musthofa dengan teman karibnya kiyai Ali Maksium.
Kiyai Bisri terkenal dengan gaya humorisnya yang mengalir bagaikan air
sehingga orang yang dikritik oleh beliau pun tidak akan marah karena
disampaikan secara sopan dan menyegarkan, bahkan orang tersebut bisa dibuatnya
terpingkal-pingkal dengan humor-humornya.
Beliau terkenal sangat produktif dalam menulis, tidak lebih dari seratus judul
yang dihasilkan dari tangan emasnya. Kemampuan beliau ini ternyata membuat
silau atau kepincut teman karibnya Kyai Ali Maksum, Krapyak.
Dalam sebuah kesempatan keduanya terlibat dalam perbincangan yang unik. "Kalau
soal alim barangkali saya tidak kalah dari sampeyan. Bahkan saya lebih alim,"
kata Kyai Ali Maksum dengan nada bercanda, "tapi mengapa sampeyan bisa begitu
produktif, sementara saya selalu gagal di tengah jalan?"
"Sampeyan menulisnya lillahi ta'ala, sih!" jawab kiyai Bisri sambil tersenyum,
artinya kiyai Ali Maksum kalau ngarang buku atau kitab niatnya ikhlas, makanya
tidak pernah selasai.
Jawaban nyeleneh kiyai Bisri tersebut tentu saja membuat kiyai Ali Maksum
bertanya-tanya. "Lho Kyai nulis kok tidak lillahi ta'ala, lalu dengan niat
apa?" kiyai Maksum balik bertanya
"Saya menulis dengan niat nyambut gawe (bekerja), sama seperti penjahit.
Penjahit itu meskipun ada tamu tidak akan berhenti menjahit, priuknya bisa
ngguling (artinya pekerjaannya bisa terhalau). Saya juga begitu. Kalau
sebelumnya sampeyan sudah berniat yang mulia-mulia, setan akan mengganggu dan
pekerjaam (menulis) sampeyan tak akan selesai. Baru nanti kalau tulisannya
sudah jadi dan akan diserahkan pada penerbit kita niati yang mulia-mulia,
linasyril ilmi (untuk menyebarkan ilmu) atau apa. Setan juga perlu kita tipu."
ujar Kyai Bisri sambil tersenyum.
