Skip to Content
Loading...
Admin
Admin
Asyharie
Awali dengan salam. (sertakan link jika seputar halaman website)

Kitab Mukhtarul Ahadits An-Nabawiyyah (Hadits 21-40)

HADITS 21

اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ، وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا، وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ. (رواه الإمام أحمد عن أبي هريرة)

Terjemahan:

Peliharalah dirimu dari hal-hal yang diharamkan, niscaya kamu menjadi orang yang paling beribadah, dan relalah dengan apa yang telah diberikan Allah kepadamu, niscaya kamu menjadi orang yang paling kaya. Berbuat baiklah terhadap tetanggamu, niscaya kamu menjadi orang mukmin. Cintailah orang lain seperti kamu mencintai dirimu sendiri, niscaya kamu menjadi orang muslim. Dan janganlah kamu banyak tertawa karena banyak tertawa itu dapat mematikan hati.
(Riwayat Ahmad melalui Abu Hurairah r.a)

Penjelasan:

Barang siapa yang ingin menjadi hamba yang paling beribadah, maka hendaklah ia menjauhi perkara-perkara yang diharamkan. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kalian mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian (dosa-dosa kalian yang kecil), dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga).
(An-Nisa: 31)

Puaslah engkau dengan apa yang telah diberikan oleh Allah untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya. Orang yang merasa puas dengan pemberian Allah Swt. berarti ia adalah orang yang bersyukur, tetapi kebalikannya, apabila ia tidak mensyukuri nikmat pemberian Allah berarti ia adalah orang yang ingkar. Dalam hadis lain, yaitu sewaktu Rasulullah Saw. bersabda kepada Tsa'labah disebutkan, “Rezeki sedikit yang engkau syukuri adalah lebih baik daripada banyak rezeki yang tidak engkau syukuri.” Dan memang benarlah apa yang dikatakan oleh Nabi Saw. itu; ketika Tsa'labah makin bertambah kaya dan banyak rezekinya, ia makin kurang puas. Sebagai buktinya ia makin menjauh dari masjid, dan bahkan lama-kelamaan ia tidak datang sama sekali ke masjid. Lain halnya sewaktu ia miskin, ia rajin ke masjid tanpa ketinggalan. Hal itu terjadi karena ia tidak mau menuruti apa yang disabdakan oleh Nabi Saw.

Berbuat baik kepada tetangga merupakan hal yang dianjurkan, bahkan syariat Islam menyeyajarkannya dengan iman. Dalam hadis lain disebutkan, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia menghormati tetangganya.”

Mencintai sesama muslim merupakan hal yang dianjurkan syariat Islam karena sesungguhnya orang muslim terhadap muslim lainnya bagaikan satu tubuh; apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka sakitlah seluruh anggota tubuh lainnya. Dalam hadis lain disebutkan, “Tidaklah beriman seseorang di antara kalian sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Allah Swt. telah berfirman sehubungan dengan sikap para sahabat Anshar yang terpuji, yaitu:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.
(Al Hasyr: 9)

Pada bagian terakhir dari hadis ini Nabi Saw. melarang kita banyak tertawa karena sesungguhnya banyak tertawa itu dapat mematikan hati. Atau dengan kata lain, hati akan menjadi keras dan kesat sehingga hati orang yang bersangkutan enggan menerima petunjuk dan nasihat yang baik.


HADITS 22

اتَّقُوا اللَّهَ، وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ، وَصُومُوا شَهْرَكُمْ، وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ طَيِّبَةً بِهَا أَنْفُسُكُمْ، وَأَطِيعُوا أُمَرَاءَكُمْ، تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ.

Terjemahan:

Bertakwalah kalian kepada Allah; dirikanlah salat lima waktu, kerjakanlah shaum sebulan, bayarlah zakat harta benda dengan hati yang tulus, dan taatilah orang yang memerintah urusan kalian, niscaya Tuhan akan memasukkan kalian ke dalam surga.
- Riwayat Hakim melalui Abu Umamah.

Penjelasan:

Dalam penjelasan yang lalu disebutkan bahwa bertakwa itu mempunyai pengertian yang sangat mujmal, kemudian dalam hadis ini disebutkan beberapa hal pokok yang merupakan realisasi bertakwa kepada Allah, yaitu mengerjakan salat, lima waktu, mengerjakan shaum di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dengan hati yang tulus ikhlas, dan menaati perintah. Barang siapa yang mengerjakan hal-hal tersebut, niscaya akan dimasukkan oleh Allah Swt. ke dalam surga-Nya.


HADITS 23

اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهَا تُحْمَلُ عَلَى الْغَمَامِ، وَيَقُولُ اللَّهُ: وَعِزَّتِي وَجَلَالِي لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ.

Terjemahan:

Takutlah kalian terhadap doa orang yang teraniaya, karena sesungguhnya doa orang yang teraniaya itu dibawa di atas awan; lalu Allah berfirman: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku benar-benar akan menolongmu sekalipun dalam beberapa waktu lagi.”
- Riwayat Thabrani melalui Khuzaimah ibnu Tsabit

Penjelasan:

Dalam hadis yang lalu disebutkan bahwa tiada sesuatu pun yang menghalangi doa orang yang teraniaya itu untuk sampai kepada Allah Swt. Selanjutnya dalam hadis ini dijelaskan bahwa doa orang yang teraniaya dibawa naik oleh awan, kemudian Allah Swt. berfirman kepadanya,

“Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku benar-benar akan menolongmu, sekalipun dalam beberapa waktu lagi.”

Atau dengan kata lain, Allah Swt. pasti akan menegakkan keadilan terhadap orang yang berbuat aniaya dan akan memberinya balasan yang setimpal atas perbuatannya itu.


HADITS 24

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ وَحَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ.

Terjemah:

Takutlah kalian terhadap perbuatan aniaya, karena sesungguhnya perbuatan aniaya itu merupakan kegelapan di hari kiamat; dan takutlah kalian terhadap sikap kikir, karena sesungguhnya kikir itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, dan mendorong mereka untuk mengalirkan darah mereka sendiri serta menghalalkan kehormatan mereka.
-Riwayat Muslim

Penjelasan:

Perbuatan aniaya kelak di hari kiamat akan berubah bentuk menjadi kegelapan yang sangat pekat bagi pelakunya; hal ini merupakan siksaan baginya sehingga ia tidak mengetahui jalan yang harus ditempuhnya, dan perkaranya berakhir di neraka untuk menerima pembalasan perbuatan aniayanya itu.

Kikir merupakan sikap yang tercela dan berakibat buruk bagi pelakunya; sudah berapa banyak orang dari kalangan umat-umat terdahulu binasa karena kekikirannya. Sebagai contoh ialah Qarun yang hidup semasa dengan Nabi Musa a.s. Ia ditelan oleh bumi berikut harta bendanya karena kekikirannya tidak mau membayar zakat. Dan bahkan kekikiran dapat menimbulkan pertumpahan darah dan terinjak-injaknya harga diri serta kehormatan para pelakunya.


HADITS 25

التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ، وَمَنْ لَا يَشْكُرُ الْقَلِيلَ لَا يَشْكُرُ الْكَثِيرَ، وَمَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ، وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ.

Terjemah::

Menyebut-nyebut nikmat Allah adalah bersyukur; meninggalkannya berarti ingkar. Barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit berarti dia tidak mensyukuri nikmat yang banyak; dan barang siapa yang tidak bersyukur terhadap orang lain berarti dia tidak bersyukur kepada Allah. Bersatu adalah rahmat, bercerai-berai adalah azab.
- Riwayat Baihaqi.


Penjelasan:

At-Tahadduts, menyebut-nyebut. Makna yang dimaksud ialah mengerjakan hal-hal yang membuktikan bahwa ia memperoleh nikmat Allah Swt., sedangkan tidak melakukannya berarti ingkar terhadap nikmat Allah. Allah Swt. telah berfirman:


وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Rabb-mu maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).
(Adh Dhuha: 11)

Dalam ayat lain Allah Swt. telah berfirman pula:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.
(Ibrahim: 7)

Kemudian dijelaskan oleh kalimat berikutnya, yaitu bahwa barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, berarti ia tidak mensyukuri yang banyak karena semuanya itu berasal dari Allah Swt. tanpa memandang sedikit atau banyaknya. Dan barang siapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada orang lain, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah Swt., sebab sesungguhnya orang lain berbuat baik kepadanya hanyalah karena digerakkan oleh Allah Swt. untuk menolongnya. Kalau ia berterima kasih kepada orang yang berbuat baik kepadanya, berarti ia bersyukur kepada Allah.

Pada bagian terakhir dari hadis ini ditegaskan bahwa jamaah adalah rahmat. Atau dengan kata lain bersatu itu akan membawa kepada rahmat Allah, sedangkan bercerai-berai akan membawa kepada azab Allah.


HADITS 26

التَّأَنِّي مِنَ اللهِ وَالعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ. (رواه البيهقي عن أنس)

Terjemah:

Tenang merupakan sifat Allah, sedangkan tergesa-gesa merupakan sifat setan.
- Riwayat Baihaqi melalui Anas r.a.


Penjelasan:

Hadis ini menganjurkan kita agar selalu bersikap tenang dan tidak terburu-buru dalam segala hal karena sikap ini merupakan sifat Allah. Dan melarang kita bersikap terburu-buru karena sikap ini merupakan sifat setan; dan setan itu menjerumuskan manusia kepada kekufuran, kedurhakaan, dan kebinasaan.


Sikap tenang merupakan sikap yang diperintahkan agar kita melakukannya dalam segala hal kecuali dalam tiga perkara, seperti yang disebutkan dalam hadis lain, yaitu: “Apabila waktu salat telah datang (segera dirikan), apabila jenazah telah dipersiapkan (segera kuburkan), dan apabila janda telah menemukan lelaki yang sepadan dengannya (segera kawinkan).” Dalam ketiga hal tersebut kita diperintahkan agar segera mengerjakannya; jika menangguh-nangguhkannya, maka berdosalah ia.


HADITS 27

اثْنَانِ لَا يَنْظُرُ اللهُ إِلَيْهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ: قَاطِعُ الرَّحِمِ، وَجَارُ السُّوءِ. (رواه الديلمي عن أنس)

Terjemah:

Dua macam orang, kelak di hari kiamat Allah tidak mau memperhatikannya yaitu orang yang memutuskan silaturrahim dan tetangga yang jahat.
- Riwayat ad-Dailami melalui Anas r.a.


Penjelasan:

Laa Yanzhurullaahu, Allah tidak mau memperhatikan kedua orang tersebut. Maksudnya ialah Allah Swt. tidak mau memberikan rahmat kepada keduanya. Atau dengan kata lain, Allah Swt. murka terhadap keduanya.

Kelak di hari kiamat Allah Swt. tidak akan memberikan rahmat kepada orang yang memutuskan hubungan silaturrahmi, bahkan sebaliknya Allah murka terhadapnya karena silaturrahmi adalah hal yang diperintahkan oleh Allah Swt., agar hubungan dipelihara. Dalam hadis lain disebutkan bahwa Allah Swt. berfirman, “Aku akan berhubungan dengan orang yang mau menghubungkanmu, dan memutuskan hubungan dengan orang yang memutuskanmu.” Demikianlah firman Allah Swt. kepada orang yang bersilaturrahmi sewaktu Dia menjalankannya. Dalam hadis lainnya disebutkan, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia menghubungkan silaturrahminya.”

Dalam pembahasan yang lalu telah kami sebutkan bahwa menghormati tetangga hukumnya wajib. Apabila ada orang yang berbuat jahat kepada tetangganya, berarti ia melanggar perintah Allah. Dan barang siapa yang melanggar perintah Allah, maka di hari kiamat kelak ia akan dijauhkan dari rahmat-Nya dan didekatkan kepada siksaan-Nya.


HADITS 28

اثْنَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ، يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الْفِتْنَةِ، وَيَكْرَهُ قِلَّةَ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ. (رواه أحمد عن محمود بن لبيد)

Terjemah:

Dua perkara yang dibenci anak Adam yaitu; membenci mati, padahal mati lebih baik daripada fitnah, dan dia membenci sedikit harta benda, padahal sedikit harta benda meringankan hisab.
- Riwayat Ahmad melalui Mahmud ibnu Lubaid


Penjelasan:

Ada dua hal yang paling tidak disukai oleh manusia, yaitu mati dan fakir, padahal kedua hal itu lebih baik baginya daripada hidup berkepanjangan, tetapi penuh dengan fitnah dan hisab yang berat. Semakin banyak harta yang dimilikinya, maka semakin berat pula hisab yang akan dialaminya di kemudian hari. Karena harta dunia itu yang halalnya adalah hisab, sedangkan yang haramnya adalah azab. Atau dengan kata lain, sekalipun harta yang dimiliki berasal dari usaha yang halal, maka ia tetap akan menjalani hisab; terlebih lagi yang dihasilkan dari usaha yang haram, maka hal itu merupakan azab bagi pemiliknya.


HADITS 29

اثْنَانِ يُعَجِّلُهُمَا اللهُ فِي الدُّنْيَا: الْبَغْيُ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ. (رواه الطبراني عن ابن أبي بكرة)

Terjemah:

Dua perkara yang (azabnya) disegerakan oleh Allah di dunia yaitu, zina dan menyakiti kedua orang tua.
- Riwayat Thabrani melalui Ibnu Abu Bakrah.


Penjelasan:

Ada dua jenis dosa yang azabnya disegerakan oleh Allah Swt. di dunia, di samping azab yang pedih kelak di akhirat. Kedua perbuatan dosa tersebut ialah zina dan menyakiti kedua orang tua. Hadis menjelaskan bahwa kedua perbuatan dosa tersebut, yaitu zina dan menyakiti kedua orang tua merupakan dosa besar yang harus benar-benar dijauhi. Barang siapa yang mengerjakan perbuatan zina dan menyakiti kedua orang tua, niscaya ia akan menerima sebagian dari hukumannya di dunia ini.


HADITS 30

اجْتَنِبُوا الْكِبْرَ، فَإِنَّ الْعَبْدَ لَا يَزَالُ يَتَكَبَّرُ حَتَّى يَقُولَ اللهُ تَعَالَى لِلْمَلَائِكَةِ: اكْتُبُوا عَبْدِي هَذَا فِي الْجَبَّارِينَ. (رواه ابن عدي عن أبي أمامة)

Terjemah:

Jauhilah oleh kalian perbuatan takabur, karena sesungguhnya atas seorang hamba yang selalu berbuat takabur, Allah berfirman kepada para malaikat-Nya: “Tulislah oleh kalian hamba-Ku ini termasuk orang-orang yang angkara murka.”
- Riwayat Ibnu ‘Addi melalui Abu Umamah.


Penjelasan:

Sifat takabur adalah sifat yang hanya layak disandang oleh Allah Yang Maha Pencipta; tiada seorang makhluk pun yang diperbolehkan bersifat ini. Barang siapa yang berbuat takabur dan berlebihan di dalam takaburnya, maka Allah murka terhadapnya sehingga ia dicap sebagai orang yang angkara murka. Dalam hadis lain disebutkan, “Takabur merupakan selendangku, barang siapa yang menyaingi-Ku dalam sifat ini, niscaya Aku akan mengazabnya.” Orang yang takabur kelak akan dimasukkan ke dalam golongan Fir’aun dan para pengikutnya.


HADITS 31

اجْعَلُوا مِنْ صَلَاتِكُمْ فِي بُيُوتِكُمْ، وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا. (رواه البخاري)

Terjemah:

Kerjakanlah sebagian dari salat (sunat) kalian di rumah kalian, dan janganlah kalian menjadikannya (rumah kalian) seperti kuburan.
- Riwayat Imam Bukhori


Penjelasan:

Rumah yang tidak pernah dipergunakan untuk mendirikan salat, diibaratkan oleh hadis ini seperti kuburan. Yang dimaksud adalah salat sunat, bukan salat fardhu karena salat fardhu lebih baik dikerjakan di masjid secara berjamaah, sedangkan salat sunat lebih baik dikerjakan di dalam rumah, karena lebih terjaga dari perasaan riya, dan pahalanya lebih besar. Selain dari itu, kelak rumahnya akan menjadi saksi baginya bahwa ia mengerjakan salat sunat. Rumah yang didirikan salat sunat di dalamnya akan tampak hidup dan ramai, tetapi rumah yang tidak pernah ada orang yang salat di dalamnya, tampak sepi dan menyeramkan seperti kuburan.


HADITS 32

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ: الشِّرْكُ بِاللهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ. (رواه الشيخان)

Terjemah:

Jauhilah oleh kalian tujuh perkara (dosa besar) yang membinasakan, yaitu: menyekutukan Allah, mengerjakan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh berzina wanita-wanita yang terpelihara kehormatannya yang dalam keadaan lalai lagi beriman.
- Riwayat Asy-Syaikhoni / Bukhori dan Muslim


Penjelasan:

Al Muubiqaatu, hal-hal yang membinasakan pelakunya. Makna yang dimaksud ialah dosa-dosa besar. Dikatakan demikian karena dosa besar dapat membinasakan pelakunya. Hadis ini menyebutkan tujuh macam dosa besar yang harus dijauhi karena berakibat membinasakan pelakunya. Tiada sekali-kali Allah Swt. melarang hamba-hamba-Nya mengerjakan sesuatu melainkan bila di dalamnya terkandung bahaya yang besar bagi pelakunya.


HADITS 33

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ. (رواه الشيخان عن عائشة)

Terjemah:

Amal yang paling disukai Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus sekalipun sedikit.
- Riwayat Asy-Syaikhani melalui Aisyah r.a


Penjelasan:

Amal kebaikan yang paling disukai Allah ialah yang dikerjakan secara rutin dan berkesinambungan, tanpa memandang besar kecilnya amal. Karena sesungguhnya Allah Swt. hanya memandang pada kesinambungannya, bukan kepada jenisnya; semakin kerap amal kebaikan dilakukan, maka semakin besar pula pahalanya, sekalipun jenisnya kecil. Demikian pula sebaliknya, apabila dosa kecil dilakukan secara terus-menerus, maka dosanya akan membesar, dan lambat laun menjadi dosa besar.


HADITS 34

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَنْ تَمُوتَ وَلِسَانُكَ رَطْبٌ مِنْ ذِكْرِ اللهِ. (رواه البيهقي عن معاذ)

Terjemah:

Amal yang paling disukai Allah ialah ketika kamu mati lisanmu masih basah karena menyebut-nyebut Allah.
- Riwayat Baihaqi melalui Mu’adz r.a.


Penjelasan:

Berzikir kepada Allah pahalanya sangat besar, terlebih lagi apabila hal ini dilakukan oleh seseorang hingga akhir hayatnya, maka amal perbuatannya itu sangat disukai oleh Allah. Dalam hadis lain disebutkan:

“Barang siapa yang akhir kalimatnya adalah Laa ilaaha Illallaah (Tiada Tuhan selain Allah), niscaya ia masuk surga.”

Dalam hadis lainnya disebutkan bahwa seorang lelaki bertanya kepada Nabi Saw. tentang amal saleh yang mudah agar dapat dijadikan pegangan untuk seumur hidup, maka Nabi Saw. menjawab, “Hendaknya lisanmu tetap dalam keadaan basah karena berzikir (menyebut-nyebut nama) Allah.” Berzikir atau menyebut-nyebut Allah mudah dikerjakan dan pahalanya besar, bahkan dalam berzikir terkandung semua kebaikan dunia dan akhirat.


HADITS 35

أَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللهِ تَعَالَى صَلَاةُ دَاوُدَ، وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَيَقُومُ ثُلُثَهُ، وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا. (رواه مسلم)

Terjemah:

Salat yang paling disukai Allah adalah salatnya Nabi Daud, dan shaum yang paling disukai oleh Allah adalah shaumnya Nabi Daud. Dia tidur separuh malam, lalu bangun mengerjakan salat sepertiganya, dan tidur lagi seperenamnya. Dia mengerjakan shaum sehari dan berbuka sehari.
- Riwayat Muslim


Penjelasan:

Hadis ini menceritakan tentang keutamaan yang dimiliki Nabi Daud a.s. Ia rajin salat dan berpuasa. Puasa yang dilakukan Nabi Daud a.s. ialah sehari berpuasa dan sehari berbuka, demikianlah sepanjang tahun, sedangkan salat yang dilakukannya ialah pada tengah malam sesudah bangun tidur, selama sepertiga malam ia terus salat, kemudian yang seperenam malamnya ia gunakan untuk istirahat lagi. Amal yang demikian adalah amal yang paling disukai oleh Allah Swt. Pantaslah bila Nabi Daud a.s. mendapat julukan sebagai hamba yang amat taat kepada Rabb-nya. Hal ini diungkapkan oleh Allah melalui firman-Nya:

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ. (ص: 30)
Dan Kami karuniakan kepada Daud Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabb-nya). (Shaad: 30)


HADITS 36

أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَنْ يَقُولَ الْعَبْدُ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ. (رواه الترمذي عن أبي ذر)

Terjemah:

Perkataan yang paling disukai Allah ialah hendaknya seseorang hamba mengucapkan kalimat, “Subhaanallaah wabihamdihi” (Maha suci Allah dengan segala puji-Nya).
- Riwayat Turmudzi melalui Abu Dzar r.a.


Penjelasan:

Hadis ini menerangkan tentang keutamaan bertasbih kepada Allah Swt. Bertasbih artinya menyucikan Allah Swt. dengan mengucapkan kalimah Subhaanallaah Wabihamdihi. Dalam hadis lain disebutkan, “Dua kalimah yang ringan diucapkan lisan, tetapi berat dalam timbangan (amal kebaikan), yaitu Subhaanallaah Wabihamdihi.” Bertasbih kepada Allah pahalanya besar, kelak di hari kemudian amal kebaikan pelakunya menjadi bertambah berat karena dua kalimat tersebut.


HADITS 37

أَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ. (رواه البخاري)

Terjemah:

Cintailah manusia (orang lain) seperti kamu mencintai dirimu sendiri.
- Riwayat Bukhari


Penjelasan:

Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan bahwa orang muslim itu hendaknya mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Dan dalam hadis ini disebutkan secara menyendiri melalui kata perintah, yaitu “Cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri.” Barang siapa yang mengerjakan hal ini, berarti ia adalah orang muslim. Dalam hadis lain disebutkan, “Orang yang benar-benar muslim ialah seseorang yang orang-orang muslim selamat dari ulah tangan dan lisannya.”


HADITS 38

احْفَظْ وُدَّ أَبِيكَ لَا تَقْطَعْهُ فَيُطْفِئَ اللهُ نُورَكَ. (رواه البخاري)

Terjemah:

Hormatilah teman yang disukai ayahmu, janganlah kamu memutuskannya, karena Allah akan memadamkan cahayamu.
- Riwayat Bukhari


Penjelasan:

Hadis ini menerangkan tentang keutamaan pahala berbakti kepada orang tua. Menghormati dan berhubungan dengan orang yang disukai oleh orang tua termasuk berbakti kepada orang tua, dan berbakti kepada orang tua besar pahalanya. Barang siapa yang tidak menghormati dan tidak mau berhubungan dengan orang yang disukai ayahnya, niscaya Allah akan memadamkan cahayanya. Dalam hadis lain disebutkan, “Sesungguhnya berbakti yang paling utama (kepada orang tua) ialah hendaknya seorang anak ber-silaturrahim kepada orang-orang yang disukai (menyukai) ayahnya.” Hal ini menunjukkan bahwa berbuat baik kepada teman-teman ayah, sama dengan berbuat baik terhadap ayah, karena hal itu akan membuat mereka mendoakan ayahnya.

Dalam riwayat lain ditambahkan, “sesudah ayahnya meninggal dunia.” Atau dengan kata lain, berbakti kepada kedua orang tua tidak terbatas hanya ketika kedua orang tua masih hidup, bahkan hal ini masih tetap terbuka sekalipun mereka berdua telah tiada. Salah satu di antaranya ialah ber-silaturrahim atau memelihara hubungan persaudaraan dengan teman-teman orang tua.


HADITS 39

أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ. (رواه أحمد عن سمرة بن جندب)

Terjemah:

Perkataan yang paling disukai Allah Swt. ada empat, yaitu: Subhaanallaah (Maha Suci Allah), Alhamdulillaah (segala puji bagi Allah), Laa ilaaha illallaahu (Tiada Tuhan selain Allah), dan Allaahu Akbar (Allah Maha Besar). Tiada mengapa (boleh) dengan yang mana saja kamu memulainya.
- Riwayat Ahmad melalui Samurah ibnu Jundub


Penjelasan:

Dalam hadis terdahulu telah disebutkan tentang kalimah yang paling disukai oleh Allah, yaitu Subhaanallaah Wabihamdihi. Kemudian dalam hadis ini disebutkan secara lengkap kalimah-kalimah yang paling disukai Allah Swt., yaitu Subhaanallaah; Alhamdulillaah; Laa ilaaha Illallaah; Allaahu Akbar. Keempat kalimat tersebut apabila diucapkan maka pelakunya mendapat pahala yang besar karena kalimat-kalimat tersebut merupakan amal saleh yang kekal pahalanya, seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya:

وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا. (الكهف: 46)
Tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Al Kahfi: 46)

Dalam hadis lain disebutkan, “Hendaknya kamu mengucapkan kalimah Subhaanallaah, Walhamdulillaah, Walaa ilaaha Illallaah, Wallaahu Akbar.” Hal itu lebih aku sukai daripada apa yang disinari oleh matahari. Makna yang dimaksud ialah bahwa mengucapkan kalimah-kalimah tersebut lebih disukai oleh Nabi Saw. daripada dunia dan seisinya karena dunia dan isinya pasti fana (lenyap), sedangkan kalimah-kalimah tersebut tetap abadi di sisi Allah untuk para pelakunya.

Pada bagian terakhir dari hadis ini disebutkan bahwa tidak ada apa-apa engkau memulainya dengan yang mana pun, maksudnya tidak akan mengurangi pahala pengamalnya.


HADITS 40

خَيْرُ بَيْتٍ فِي الْمُسْلِمِينَ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُحْسَنُ إِلَيْهِ، وَشَرُّ بَيْتٍ فِي الْمُسْلِمِينَ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُسَاءُ إِلَيْهِ. (رواه البيهقي عن ابن عمر رضي الله عنهما)

Terjemah:

Rumah kalian yang paling disukai Allah adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang dimuliakan.
- Riwayat Baihaqi melalui Ibnu Umar r.a.


Penjelasan:

Memelihara anak yatim adalah amal kebajikan yang dianjurkan oleh syariat Islam dan pelakunya akan mendapat pahala yang besar, sehingga digambarkan oleh hadis ini bahwa bukan pelakunya saja yang disukai oleh Allah, tetapi rumah yang ditempatinya pun disukai oleh Allah.

Atau dengan kata lain, Allah Swt. menyiraminya dengan rahmat dan karunia yang berlimpah karena di dalamnya terdapat anak yatim yang dipelihara dan dihormati serta tidak disia-siakan.

Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?